Foto: Karo Penmas Divisi Humas Polisi Republik Indonesia Brigjen Dedi Prasetyo. (Agung Pambudhy-detikcom)Jakarta -Densus 88 Antiteror Polisi Republik Indonesia menangkap anggota kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Barat (Sumbar) berjulukan Novendri alias Abu Zahran alias Abu Jundi. Polisi Republik Indonesia menyebut Novendri terhubung dengan jaringan teroris di dalam maupun luar negeri.
"Tersangka yang ditangkap berjulukan Novendri. Dia ialah salah satu tersangka terorisme jaringan JAD yang mempunyai koneksi atau mempunyai jaring komunikasi kekerabatan dengan beberapa JAD yang ada di Indonesia, maupun kelompok teroris yang ada di luar negeri," kata Karo Penmas Divisi Humas Polisi Republik Indonesia Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2019).
Novendri ditangkap di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Padang, Sumbar, Kamis (18/7) pukul 21.59 WIB. Di dalam negeri, Novendri bekerjasama dengan JAD Lampung, JAD Sibolga, JAD Bekasi dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang ketika ini dipimpin Ali Kalora. Dia berperan menyalurkan uang untuk acara kelompok-kelompok teroris tersebut.
"Untuk Novendri ini ada pengendalinya, master mind-nya berjulukan Saefulah. Untuk yang bersangkutan (Saefullah) sudah diterbitkan DPO oleh Densus 88. Dia yang memberi uang kepada Novendri untuk diteruskan ke kelompok-kelompok teroris di Indonesia," tutur Dedi.
Dedi menyampaikan Saefulah merupakan bekas penjaga perpustakaan Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud. Saat ini, Saefulah diduga sudah berada di Khurasan, tempat perbatasan di Afganistan.
"Yang bersangkutan diduga berada di suatu wilayah, Khurasan, yang ada di Afganistan. Kenapa yang bersangkutan ada di Khurasan? Pasca kekalahan ISIS di Suriah, mereka eksklusif pecah kekuatannya dan ketika ini kekuatan ISIS sudah mengarah ke suatu tempat yaitu Khurasan, Afganistan," terang Dedi.
"Ini tempat abu-abu, yang tidak bisa dikontrol oleh suatu Pemerintah, makanya mereka berpengaruh di situ," sambung Dedi.
Selain Novendri, Saefulah juga mempercayakan pendanaan kepada anggota JAD Kalimantan Timur berjulukan Yoga dan seseorang berjulukan Abu Saidah. Abu Saidah sendiri ketika ini masih menjadi buruan Densus 88 Antiteror. Sementara Yoga ditangkap di Malaysia.
"Untuk Saefulah ini, ia mengontrol beberapa pelaku yang ada di Indonesia, antara lain ialah tersangka Yoga yang merupakan JAD Kaltim, yang sudah ditangkap. Yoga juga menggantikan kiprahnya Andi Baso sebagai jembatan penghubung antara kelompok ISIS atau JAD Indonesia maupun yang ada di Filipina," ujar Dedi.
Dedi menjelaskan laki-laki berjulukan Andi Baso itu merupakan terduga teroris asal Makassar yang mengatur perjalanan pasangan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina. Andi Baso ketika ini berstatus DPO.
"Andi Baso ini mempunyai kemampuan juga merekrut orang, diyakini yang bersangkutan ada di Filipina Selatan," lanjut Dedi.
Polri sebelumnya berhasil mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina. Pelaku dipastikan dua orang warga negara Indonesia (WNI) yaitu pasangan suami istri (pasutri) Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh.
Identitas kedua pasutri pelaku bom bunuh diri terungkap sesudah anggota JAD Kalimantan Timur berjulukan Yoga dan JAD Sumatera Barat berjulukan Novendri ditangkap.
"Setelah dilakukan penangkapan terhadap Saudara Novendri dan Yoga di Malaysia, gres mengkait ternyata pelaku bom bunuh diri di Filipina itu ialah dua orang warga negara Indonesia," ujar Dedi.
Faksi Militan Ajang-Ajang Dituding di Balik Bom Gereja Filipina:
Sumber detik.com
EmoticonEmoticon