Wednesday, August 21, 2019

Bmkg Prakirakan Awal Animo Hujan Di Diy Melambat, Ini Sebabnya

BMKG Prakirakan Awal Musim Hujan di DIY Melambat, Ini SebabnyaPrakiraan awal trend hujan 2019/2020 di wilayah DIY. -- Foto: dok. Stasiun Klimatologi Mlati BMKG Yogyakarta
Yogyakarta -
BMKG memprakirakan awal trend hujan 2019/2020 di wilayah Daerah spesial Yogyakarta (DIY) melambat. Hal itu dipicu sejumlah kondisi alam.

BMKG dalam keterangannya menyebutkan menurut update 21 Agustus 2019, bahwa pada Agustus 2019 El Nino sudah meluruh menjadi netral, prediksi sampai tamat 2019 diprakirakan pada status netral, IOD (Indian Ocean Dipole) cederung netral, anomali suhu muka air bahari Indonesia belahan selatan lebih hirau taacuh dari normalnya dan peralihan angin timuran menjadi angin baratan diprediksi akan terlambat.

"Berkaitan dengan kondisi tersebut maka untuk wilayah DIY diprakirakan awal trend hujan 2019/2020 umumnya diprakirakan pada November 2019. Sehingga trend hujan diprediksi akan terlambat," kata Kepala Stasiun Klimatologi Mlati, BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, Rabu (21/8/2019).
Kecuali wilayah Kabupaten Sleman belahan barat dan Kabupaten Kulon Progo belahan utara, diprakirakan awal trend hujan pada Oktober 2019 dasarian III (sepuluh hari terakhir Oktober 2019).

"Awal trend hujan 2019/2020 diprakirakan lebih lambat 1-2 dasarian (10-20 hari)," terperinci Reni.

Ditambahkannya, untuk puncak trend hujan 2019/2020 wilayah DIY diprakirakan pada Januari-Februari 2020.
BMKG mengimbau masyarakat perlu meragukan pengaruh negatif trend hujan. Antara lain peningkatan potensi banjir dan longsor, penurunan produksi kopi, tembakau, garam, tanaman buah tropika, penurunan rendemen tebu dan tinggi gelombang yang menggganggu acara nelayan.

Sedangkan pengaruh aktual trend hujan antara lain meningkatkan potensi luas tanam sawah, meningkatkan frekuensi tanam, ketersediaan air untuk pertanian dan waduk.

Sumber detik.com


EmoticonEmoticon