Wednesday, March 20, 2019

Terima Suap Di Hotel Semarang, Taufik Kurniawan Sewa 3 Kamar

Terima Suap di Hotel Semarang, Taufik Kurniawan Sewa 3 KamarTaufik Kurniawan ketika memasuki ruang sidang di Pengadilan Tipikor Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

Semarang -Wakil Ketua dewan perwakilan rakyat RI Taufik Kurniawan mempunyai modus operandi penyerahan uang dalam kasus dugaan suap yang menjeratnya. Taufik menyewa 3 kamar hotel dengan pintu yang saling terhubung ketika proses penerimaan uang.

Hal itu terungkap ketika sidang perdana pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor Semarang.

Modus tersebut dilakukan ketika mendapatkan uang dari Bupati Kebumen, Yahya Fuad. Dua orang itu bertemu pada bukan Februari 2016 dan Yahya meminta terdakwa untuk untuk memperjuangkan DAK 2016 senilai Rp 100 miliar.

Pertemuan berlangsung sampai bulan Juni 2016 dan terdakwa mengajukan syarat berupa janji fee 5 persen dari anggaran yang disetujui. Beberapa hari kemudian Yahya oke dengan syarat itu.


"Guna merealisasikan uang fee yang sudah disepakati, pada sekira awal bulan Juli 2016, terdakwa melaksanakan pertemuan dengan Mohamad Yahya Fuad di restoran KFC jalan Sultan Agung Semarang. Pada pertemuan itu terdakwa memberikan biar uang fee 5 persen diberika dalam 3 tahap," kata jaksa KPK, Eva Yustisiana ketika membacakan dakwaan, PN Tipikor Semarang, Rabu (20/3/2019).

Tahap tersebut ialah sepertiga dari total fee 5 persen, kemudian minimal sejumlah Rp 1,5 miliar, dan tahap terakhir paling lambat Oktober 2016.


[Gambas:Video 20detik]


Kemudian bulan Juli 2016 Yahya bertemu dengan pihak swasta yaitu Adi Pandoyo, Khayub Muhamad di sebuah hotel di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu Yahya memberikan Kebumen mendapatkan DAK pada APBN Perubahan 2016 Rp 100 miliar. Ia juga menyampaikan biar pelaksana paket pekerjaan harus membayar 7 persen fee dari nilai proyek.

Kemudian pada 26 Juli 2016 terdakwa minta fee diserahkan di Hotel Gumaya Semarang melalui Rachmad Sugiyanto. Terdakwa memerintah Rachmad memesan 3 kamar hotel.

"Dua kamar bersebelahan, connecting door untuk mendapatkan uang dan satu kamar di depannya yang akan dipakai oleh terdakwa untuk mengawasi penerimaan fee tersebut," tandas jaksa.

Yahya meminta pihak swasta Hojin Ansori menyiapkan uang Rp 1,65 miliar dan menyerahkan pada Rachmad pada 26 Juli 2016 di Hotel Gumaya kamar nomor 1211. Kemudian Rachmad menyerahkan uang kepada terdakwa di kamar di depannya.

"Selanjutnya uang diserahkan kepada terdakwa yang terletak di depan kamar Rachmad dengan menyampaikan 'ini pak titipannya'. Terdakwa menjawab 'ya sini cepet, udah tinggal aja'. Selanjutnya terdakwa menghubungi Yahya Fuad dan memberikan bahwa uang sudah diterima," pungkas Eva.

Penyerahan kedua terjadi 15 Agustus 2016. Adi Pandoyo yang diperintah Yahya menyerahkan Rp 2 miliar kepada terdakwa lewat Rachmad dengan modus yang sama namun kali ini ada di kamar 815.


Untuk diketahui, jaksa KPK dalam dakwaan primernya menyebut Taufik melanggar pasal 12 Nomor 31 Tahun 1999 ihwal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 ihwal perubahan atas UU no. 21 Tahun 1999 ihwal pemberantasan tindak pidanan korupsi jo Pasal 65 ayat (1) kitab undang-undang hukum pidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan kedua yaitu pasal 11 dengan dakwaan yang sama.

Total uang suap yang diterima terdakwa ialah Rp. 4,85 miliar yang terbagi yaitu dari Bupati Kebumen, Yahya Fuad sebesar Rp 3,65 miliar dan dari Bupati Purbalingga, Tasdi sebesar Rp 1,2 miliar.


Saksikan juga video 'Taufik Kurniawan Tersangka KPK, Ini Kata Bamsoet':

[Gambas:Video 20detik]



Sumber detik.com


EmoticonEmoticon